Revolusi Hidup
Wednesday, March 14, 2012
Nilai-Nilai Hidup
Pak Tung kembali berkata ,"Kok dari tadi ada yang angkat tangan terus, ini berarti yng nomor satu mana?". Memang ada seorang peserta yang selalu angkat tangan ketika ditanya. Saat ditanya siapa yang nomor satunya kesehatan, dia angkat tangan, saat ditanya yang nomor satunya keluarga, dia juga angkat tangan, saat ditanya yang nomor satunya uang, dia juga angkat tangan. Apalagi ketika ditanya yang nomor satunya Tuhan, dia juga angkat tangan. Tentu saja jika setiap ditanya dia angkat tangan berarti sebenarnya tidak ada yang nomor satu bagi dia.
Setelah itu Pak Tung melakukan perhitungan, yaitu selama sehari semalam berapa jam porsi setiap kegiatan. Dari perhitungan tersebut diperoleh sebagai berikut
tidur = 8 jam
kerja = 8 jam
waktu di jalan = 2 jam
sisa = 24 - 8 - 8 - 2 = 6 jam
Ternyata 6 jam waktu yang tersisa dipakai buat keluarga, ibadah, olah raga, dan lain-lain. Aneh sekali, hal-hal yang dari tadi dianggap nomor satu ternyata ditaruh di 6 jam sisa. Semstinya jika nomor satunya adalah kesehatan, maka sebagaian besar waktu hidupnya untuk olah raga. Jika nomor satunya keluarga, maka dia menghabiskan waktu hidupnya untuk keluarga terus. Jika nomor satunya Tuhan, semestinya sebagian besar hidupnya dipakai di tempat ibadah. Anehnya, jika dilihat komposisi waktunya, ternyata sebagaian besar dipakai untuk kerja. Berarti nomor satunya uang ?
Terus terang, bagi sebagian besar orang, uang bukanlah nomor satu. Akan tetapi disarankan, hendaknya masalah uang diselesaikan terlebih dahulu. Jika masalah uang diselesaikan dulu, sehingga memiliki pasif incomenya bisa mencukupi gaya hidupnya maka kita bisa fokus ke yang lain. Kita bisa memenuhi hari-hari kita untuk keluarga, karena masalah uang sudah beres. Kita juga bisa banyak di masjid (tempat ibadah) karena uang terus mengalir ke kita
Wednesday, February 8, 2012
Memilih kata-kata
Banyak orang yang terbiasa dengan kata-kata negatif, tetapi dia tidak menyadari efek buruknya. Misalnya ,”Aduh, capek aku”, “Kepalaku pusing”. “Mati aku”, dan masih banyak kata-kata negatif lain yang sering keluar begitu saja.
Kelihatannya itu semua biasa, akan tetapi tanpa kita sadari, itu membuat kita menjadi semakin negatif. Seringkali kata-kata itu ditujukan juga untuk orang lain, misalnya “Kamu lelah ya”, “Ih, kamu kelihatan pucat”. Kata-kata seperti ini biasanya ditujukan untuk menyapa, supaya kelihatan ramah, tetapi sebenarnya memberikan efek yang kurang bagus.
Terus bagaimana jika kondisi memang seperti itu ? Kita bisa kok mengganti kata-katanya. Misalnya kata-kata “Aduh capek aku”, kita bisa menggantinya dengan “Saya perlu istirahat”. Kata-kata “kepalaku pusing” bisa diganti dengan ,”Saya perlu charge baterai” atau apapun, yang penting tidak menunjukkan diri kita semakin negatif.
Begitu juga dengan kata-kata yang ditujukan untuk orang lain, kita bisa memilih yang lebih positif. Daripada mengatakan “Kamu pucat” lebih baik diganti “kamu kelihatan lebih putih”. Daripada mengatakan “Kamu sakit ya” lebih baik diganti “Kelihatannya kamu perlu ke dokter” dan sebagainya.
Terus bagaimana jika kita benar-benar sakit ? Apakah kita tidak boleh mengatakannya? Tentu saja boleh, asalkan kita mengatakannya di depan orang yang kompeten, misalnya di depan dokter. Bisa juga kita mengatakannya kepada orang yang mau mengantarkan kita ke dokter. Yang terpenting keluhan tadi jangan dikatakan kepada banyak orang, karena justru akan membuat kita semakin sakit.
Menurut penelitian Masaru Emoto, pilihan kata, bisa mempengaruhi bentuk Kristal air. Jika kita memberikan kata-kata yang bagus pada air, ataupun memberikan doa kepada air, maka bentuk kristal air akan bagus. Begitu juga jika memberikan kata-kata yang tidak baik, maka bentuk Kristal air menjadi hancur. Yang unik lagi bentuk Kristal air yang hancur ini biasanya dijumpai pada air comberan. Jadi hati-hati, jika anda minum air, dan sebelumnya berkata-kata tidak baik, bisa jadi air yang kita minum seperti air comberan. Alangkah baik jika kita membaca doa sebelum minum ataupun makan.
Jika anda tidak memiliki mikroskop elektron untuk melihat Kristal air, alangkah baiknya jika kita mencoba meneliti zat lain yang mengandung air, misalnya pada nasi. Jika nasi putih ditaruh di dalam toples, dan kemudian diberi tulisan “kamu goblok” , selanjutnya setiap hari diberikan kata-kata “kamu goblok, jelek jahat, nakal , sinting” dan sebagainya, maka dalam 3 minggu nasi tersebut akan menjadi hitam dan baunya busuk. Jika kita nasi kita taruh di dalam toples , kita beri tulisan “kamu baik” selanjutnya kita beri kata-kata positif, maka nasi tersebut akan semakin baik, dalam 3 minggu warnanya menjadi kuning dan meragi, serta baunya harum. Jika anda tidak percaya, buktikanlah ..
Pilihan kata-kata ini seringkali menjadi identitas dalam diri kita. Dan pengaruh identitas ini sangat berperan dalam kinerja kita.
Monday, October 24, 2011
Mengubah Perasaan
1. Membandingkan dengan orang yang lebih menderita
2. Membuat dirinya sedikit sengsara
3. Adanya magic moment
Terkadang seringkali orang tidak bahagia ketika dia membandingkan dirinya dengan orang yang lebih sukses. Akan tetapi ketika kita melihat orang yang lebih menderita, kita akan merasa lebih bahagia. Ketika Jerman Timur bergabung dengan Jerman Barat, secara umum kekayaan orang Jerman Timur naik tiga kali lipat. Anehnya dengan kekayaan ini tingkat kebahagiaan mereka malah menurun. Hal ini disebabkan mereka selalu membandingkan dirinya dengan orang Jerman Barat yang lebih kaya
Ada seseorang yang merasa rumahnya terlalu sempit. Ketika itu dia bertemu dengan orang bijak. Orang bijak memberi saran supaya semua hewan ternaknya dimasukkan ke dalam rumah. Dia menuruti apa yang dikatakan oleh orang bijak. Tentu saja, dia menjadi bertambah bingung, karena hewan-hewan ternak berada di dalam rumah. Rumah terasa jauh lebih sempit. Setelah 2 bulan orang bijak menyuruh dia untuk mengeluarkan ternaknya lagi. Setelah ternak dikeluarkan, maka dia merasa lebih lega. Rumah terasa jauh lebih luas. Dengan membuat dirinya sedikit lebih menderita (memasukkan ternak ke dalam rumah) maka dia bisa merasakan luasnya rumah yang lebih sempit.
Ketika orang berhasil mencapai target, ketika diwisuda, ketika menikah, ketika berhasil diterima kerja, ketika bisnisnya yang selama ini kecil, mendadak berubah menjadi besar dan lain-lain, tentu saja orang akan merasa bahagia. Peristiwa inilah yang disebut dengan magic moment. Masalahnya jika kebahagiaan kita tergantung pada magic moment ini maka kita akan sulit bahagia. Untuk bahagia, kenapa orang harus diwisuda dulu? Mungkin anda hanya diwisuda 1 kali, 2 kali, 3 kali atau bahkan tidak pernah diwisuda. Jika bahagia anda menunggu diwisuda, maka anda akan sulit untuk menjadi bahagia.
Untuk itulah belajarlah membuat magic moment yang mudah. Jika anda bisa membuat magic moment ini setiap saat maka ada akan bisa bahagia. Magic moment ini usahakan agar tidak tergantung pada orang lain, murah, mudah, dan positif. Misalnya lari pagi, membaca kitab suci, minum air segar, menarik nafas panjang, mengirim salam kepada orang tua, memberi uang kapada pengemis, dan lain-lain. Usahakan tulis semuanya hingga mencapai 100. Kenapa mesti ditulis? Jika sewaktu-waktu anda dalam keadaan stress dan ingin bahagia, maka anda tinggal melihat tulisan tadi dan langsung melakukannya. Akan tetapi jika tidak ditulis, maka ketika anda sedang menderita (memiliki masalah) maka anda akan susah untuk mengingatnya, apalagi melakukannya.
Dari ketiga hal di atas, intinya yang membuat kita bisa bahagia adalah ketika perasaan kita berubah. Dengan membandingkan dengan orang lain yang lebih menderita, maka perasaan kita berubah. Membuat diri kita sedikit menderita, tentu saja akan mengubah perasaaan kita, tetntu saja pada saat penderitaan tadi sedikit dilepas, ini perasaan yng kita inginkan. Magic moment merupakan hal-hal yang bisa mengubah perasaan kita.
Orang seringkali memiliki cita-cita yang tidak begitu besar karena cita-citanya hanya sebatas untuk mengubah perasaan saja. Misalnya cita-cita menjadi Insinyur. Tentu saja ketika kita diwisuda dari jurusan teknik, kita akan menjadi Insinyur. Setelah anda menjadi insinyur, anda harus menyusun cita-cita lagi. Jika anda ingin jauh lebih sukses, maka jauh-jauh sebelum menjadi Insinyur, anda harus menentukan, setelah menjadi Insinyur anda akan berniat menjadi apa?
Jadi, usahakan permudahlah kebahagiaan anda, karena itu bisa dicapai dengan mudah (hanya dengan mengubah perasaan) dan anda memang sangat membutuhkan kebahagiaan anda. Berikutya, perbesarlah cita-cita anda, jangan hanya sebatas mengubah perasaan anda. Negara ini sangat membutuhkan orang-orang yang sukses.
Thursday, October 6, 2011
Cita-cita yang mandul
Pada intinya mereka mereka tidak pernah diajari lagi cra bercita-cita. Mereka tidak pernah berusaha menyusun cita-cita agar lebih mudah tercapai. Hal ini disebabkan tidak ada lagi yang membimbing dia untuk bercita-cita lagi. Dengan demikian jika siswa SMA ditanya cita-citanya, paling banter dia hanya menjawab jurusan di perguruan tinggi yang ingin dituju.
Banyak orang yang tidak berani bercita-cita tinggi. Ada beberapa hal yang menyebabkan cita-cita mereka tidak tinggi, atau boleh dikatakan cita-citanya mandul :
1. Mereka tidak yakin bahwasanya cita-citanya akan tercapai
2. Mereka ketakutan jika tidak kesampaian maka mereka akan stres.
3. Tidak ada orang sukses yang membimbingnya
4. Mereka hanya menjadikan cita-cita sebagai sarana mengubah perasaan saja
5. Mereka tidak bisa membedakan antara sukses dan bahagia.
Jarang sekali orang yang memiliki cita-cita untuk memiliki perusahaan besar seperti honda, toyota, hilton, dan lain-lain. Mereka merasa cita-cita menjadi insinyur sudahlah cukup. Kenapa demikian? Karena orang yang membimbing dia selama ini mengatakan hal seperti itu.
Guru SMA tentu merasa sukses jika para siswanya diterima di perguruan tinggi yang diinginkan. Dengan demikian efeknya siswa SMA bercita-cita sebatas perguruan tinggi mana yang akan dituju.
Seringkali orang memiliki cita-cita hanya sebatas mengubah perasaaan saja. Hal ini boleh dikatakan tidak tepat. Memang, apapun yang kita inginkan, sebenarnya hanya mengubah perasaan saja. Misalnya ketika kita ingin memiliki rumah mewah, sebenarnya yang kita inginkan bukan rumah mewahnya, tetapi perasaan yang berubah ketika baru memiliki tumah mewah tadi yang diinginkan. Ketika seseorang menginginkan naik gaji, sebenarnya bukan gaji besarnya yang diinginkan, akan tetapi yang diinginkan adalah perasaan yang berubah ketika ada kenaikan gaji tadi. Jika seseorang gajinya naik, maka perasaannya berubah, setelah sekian lama tidak naik, perasaaannya tidak berubah lagi. Maka dia pasti ingin gajinya naik lagi.
Nah, seringkali seseorang bercita-cita hanya sebatas mengubah perasaaannya saja. Dia hanya bercita-cita sesuai prosedur yang sudah umu. Misalnya dia ingin punya cita-cita menjadi dokter, maka jelas cara mencapainya pastilah sudah umum, yaitu kuliah di jurusan kedokteran. Jika dia sudah lulus dari jurusan kedokteran, maka jadilah dia dokter. Dengan cara ini dia akan kehilangan cita-cita ketika sudah lulus, atau boleh dikatakan cita-citanya sudah habis.
Alangkah lebih baik jika dia memiliki cita-cita jadi dokter, dia memiliki cita-cita lanjutannya, misalnya memiliki rumah sakit. Setelah itu cita-cita berikutnya adalah rumah sakitnya memiliki cabang di seluruh dunia.
Jika seseorang memiliki cita-cita menjadi insinyur, sebenarnya cukup mudah. Asalkan dia lulus dari jurusan teknik maka cita-citanya sudah tercapai. Akan tatapi alangkah lebih baik jika dia memiliki cita-cit lanjutannya, misalnya memiliki industri mobil, industri elektronik atau bahkan industri pesawat terbang.
Akan tetapi dari dokter menjadi pemilik rumah sakit atau dari insinyur menjadi pemilik industri pesawat terbang merupakan jalan yang tidak umum, sehingga orang jarang sekali mau mengusahakannya. Hal ini penyebab utamanya mereka jarang sekali mempelajari biografi orang-orang yang sudah sukses. Mereka jarang sekali mempelajari bagaimana Honda mendirikan perusahaaannya, bagaimana matsushita mendirikan panasonicnya, bagaimana levi's mendirikan perusahaan celana jean's nya dll.
Jika anda tidak mau membaca biografi orang-orang yang sudah sukses tadi, maka saya sarankan untuk bergabung dengan pebisnis-pebisnis yang sudah sukses, sehingga anda akan jauh lebih mudah mencapai cita-cita tinggi anda.
Tuesday, September 6, 2011
Menjadi milyarder dengan internet
bersambung ...
Saturday, October 23, 2010
Indeks Prestasi Tinggi
Ini adalah pengalaman Tung Desem Waringin dalam mengejar IPK tinggi. Beliau berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa sebelumnya yang memiliki Indeks Prestasi Tinggi. Dari sini Pak Tung bertanya bagaimana caranya agar indeks prestasi di atas 3? Para mahasiswa tadi mengatakan bahwa kamu harus belajar soal-soal tahun lalu, karena biasanya dosen itu malas membuat soal baru. Dengan demikian soal-soalnya tidak jauh berbeda dengan soal-soal tahun lalu. Jadi kalau kamu belajar soal-soal tahun lalu maka belajarmu akan lebih efektif.
Ketika Pak Tung mencoba cara ini maka indeks prestasinya juga masih di bawah 3. Akhirnya Pak Tung bertanya,”Saya sudah berusaha untuk mempelajari soal-soal tahun lalu, tapi kenapa indeks prestasi saya masih di bawah 3?” Akhirnya dijawab,”Kamu harus punya buku-buku referensi, karena terkadang seringkali ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak terdapat pada buku teks. Dengan demikian jika pertanyaan itu muncul kamu masih bisa menjawabnya”.
Kemudian Pak Tung bertanya lagi,”Terus apa lagi yang harus saya siapkan?” Mahasiswa IP tinggi itu menjawab,”Begini, biasanya dosen itu malas mengoreksi, jadi dia hanya melihat beberapa test mahasiswa saja.” (Kebetulan karena saat itu kuliahnya negeri dan satu angkatan sampai 300 orang, ditambah lagi dosen tidak memperoleh honor untuk mengoreksi, maka tentu saja dosen malas mengoreksi semua ulangan mahasiswa, sehingga hanya mengoreksi mahasiswa-mahasiswa tertentu saja). “Seringkali tidak semua hasil ujian dikoreksi oleh dosen, sehingga jika kamu kelihatan berprestasi, dan kamu aktif, sering bertanya dan selalu duduk di depan maka kemungkinan kamu mendapatkan nilai A akan lebih tinggi. Untuk itu kamu harus sering duduk di depan dan sering bertanya. Setelah selesai kuliah, cobalah bertanya lagi, Pak nama saya Tung Desem Waringin, kebetulan saya ingin mendapatkan nilai A, untuk itu buku referensi apa saja yang harus saya miliki”. Dosennya ngomong, kamu harus punya buku A, B, dan C.
“Di kuliah berikutnya kamu harus duduk di depan lagi dan kamu harus aktif maju ke depan. Pak saya sudah punya buku A, B dan C, saya sudah membaca isinya, untuk itu jika saya ingin mendapatkan nilai A saya harus belajar apa lagi? Kamu harus menunjukkan itikad baik bahwa kamu harus mau belajar. Nah dari sekian ratus mahasiswa jika kamu kelihatan aktif mau belajar dan menunjukkan bahwa kamu bisa maka kemungkinan kamu mendapatkan nilai A menjadi lebih besar”.
“Karena yang dikoreksi cukup banyak, maka kemungkinan dosen akan melihat hasil ujian kamu. Ketika misalnya kamu tidak bisa menjawab, cobalah tetap diisi. Jika perlu pertanyaannya ditulis lagi dan usahakan jawabannya agak menjorok ke dalam. Sehingga ketika dosen melihat secara umum, dosen tidak akan memeriksa dan kamu langsung diberi nilai A”.
Demikianlah ketika dipraktekkan pernah terjadi ketika itu Pak Tung tidak bisa menjawab, dia berusaha mengisi dengan isi yang agak dalam. Karena dosen hanya memeriksa sekilas saja, akhirnya dia mendapat nilai A. Masuk akal bukan?
Jadi intinya yang paling penting adalah nyontek harus detil. Kalau anda tidak detil maka anda akan kehilangan poin-poin yang menyebabkan anda mendapat nilai A.
Friday, October 22, 2010
Mahasiswa Teladan
Ini merupakan kisah yang sering diceritakan oleh Tung Desem Waringin, baik dalam seminarnya ataupun cd-cdnya. Ketika itu beliau memiliki goal untuk menjadi mahasiswa teladan. Yang dia lakukan pertama kali adalah dia harus belajar dari yang terbaik. Yang terbaik di sini siapa? Sudah tentu adalah para mahasiswa yang dulunya pernah menjadi mahasiswa teladan. Untuk itu Pak Tung berusaha mendatangi kost para mahasiswa yang dulunya pernah menjadi mahasiswa teladan.
Ketika bertanya kepada mereka, Pak Tung jadi tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu. Untuk menjadi mahasiswa teladan syaratnya ada 3, yaitu indeks prestasi harus di atas 3, kemudian harus aktif di senat ataupun organisasi sosial, kemudian yang ketiga harus sering ikut lomba. Inilah jurus dahsyat yang dipakai Pak Tung untuk menjadi mahasiswa teladan.
Kenapa Pak Tung ingin menjadi mahasiswa teladan? Karena dia punya alasan yang sangat kuat. Ketika itu beliau pernah ditolak oleh banyak wanita, sehingga beliau berusaha untuk menjadi mahasiswa teladan agar para wanita tidak menolaknya lagi. Selain itu kuliah Pak Tung pernah tertunda 1 tahun. Sebelumnya Pak Tung pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Studi Pembangunan. Dia merasa tidak cocok kuliah di tempat itu, karena isi kuliahnya jauh berbeda dengan kuliah Akuntasi atau manajemen. Karena ketika di SMA jurusan IPA maka Pak Tung tidak tahu tentang hal itu. Akhirnya tahun berikutnya memilih fakultas hukum. Di sinilah dari awal beliau merencanakan untuk menjadi mahasiswa teladan.